Ditulis oleh tim HALO-TECHS berdasarkan pengalaman implementasi dan praktik infrastruktur IT yang kami gunakan dalam proyek.
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua perusahaan. Frekuensi maintenance bergantung pada jenis perangkat, criticality, workload, lingkungan, dan SLA.
Harian atau mingguan
- Monitoring alert.
- Memeriksa kapasitas storage.
- Memastikan status backup.
- Memantau availability layanan penting.
Bulanan
- Review performance.
- Patch planning.
- Health check perangkat.
- Review kapasitas dan resource utilization.
Triwulanan atau semesteran
- Capacity planning.
- Review topology.
- Audit konfigurasi.
- DR atau restore test sesuai kebutuhan.
Tahunan
- Lifecycle review.
- Renewal atau support contract review.
- Roadmap upgrade.
Tujuan maintenance
- Maintenance bukan sekadar membersihkan perangkat.
- Tujuannya mengurangi risiko downtime, menjaga performa, dan menemukan masalah sebelum menjadi gangguan besar.
Maintenance berbasis risiko
Frekuensi maintenance sebaiknya mengikuti criticality. Sistem yang menopang produksi, transaksi, identity, atau backup membutuhkan monitoring dan review lebih sering dibanding perangkat non-kritis. Gunakan inventory, lifecycle, warranty/support status, firmware, capacity utilization, dan incident history sebagai dasar penyusunan jadwal.
Apa output maintenance yang seharusnya diterima?
Laporan maintenance yang berguna tidak hanya mengatakan perangkat 'normal'. Idealnya ada daftar health check, temuan, tindakan yang dilakukan, risiko terbuka, rekomendasi, dan prioritas. Dengan demikian management dapat menggunakan hasil maintenance untuk keputusan anggaran dan roadmap upgrade, bukan sekadar arsip kegiatan teknisi.