Ditulis oleh tim HALO-TECHS berdasarkan pengalaman implementasi dan praktik infrastruktur IT yang kami gunakan dalam proyek.
Copy file ke hard disk bukan berarti perusahaan sudah memiliki sistem backup yang baik. Backup harus dirancang berdasarkan data yang dilindungi, target pemulihan, dan skenario kegagalan yang harus dihadapi bisnis.
7 pertanyaan dasar tentang backup
- Data apa yang harus dilindungi?
- Seberapa sering backup dilakukan?
- Berapa lama data harus disimpan?
- Berapa cepat data harus dipulihkan?
- Di mana salinan backup disimpan?
- Apakah backup diuji melalui restore test?
- Bagaimana jika backup utama terkena ransomware?
Memahami RPO dan RTO
- RPO (Recovery Point Objective) membantu menentukan berapa banyak data yang masih dapat hilang setelah insiden.
- RTO (Recovery Time Objective) membantu menentukan berapa lama layanan boleh tidak tersedia.
- Kedua parameter tersebut membantu menentukan desain backup dan recovery yang realistis.
Backup sebagai bagian dari Business Continuity
- Backup sebaiknya dirancang sebagai bagian dari business continuity, bukan sekadar pekerjaan copy-paste.
- Restore test perlu dilakukan agar organisasi mengetahui apakah data benar-benar dapat dipulihkan.
Dari backup ke recovery plan
Sistem backup yang matang harus menjawab apa yang dicadangkan, kapan backup dilakukan, berapa lama retention, di mana salinan disimpan, dan bagaimana restore dijalankan. Selain backup lokal, organisasi dapat mempertimbangkan salinan offsite atau immutable sesuai risiko. Backup yang tidak pernah diuji tidak memberikan kepastian bahwa data dapat dipulihkan ketika insiden benar-benar terjadi.
Restore test dan ransomware readiness
Restore test dapat dimulai dari satu file, satu folder, satu virtual machine, sampai pemulihan layanan sesuai criticality. Dokumentasikan hasil pengujian, waktu pemulihan, dependency, dan kendala. Untuk skenario ransomware, pisahkan akses backup dari environment produksi dan gunakan kontrol yang membantu mencegah backup ikut terenkripsi atau dihapus.