Ditulis oleh tim HALO-TECHS berdasarkan pengalaman implementasi dan praktik infrastruktur IT yang kami gunakan dalam proyek.
Server bukan sekadar komputer yang lebih besar. Server adalah sistem yang menyediakan resource atau layanan yang digunakan oleh perangkat atau aplikasi lain di dalam lingkungan bisnis.
Contoh workload server
- File dan document management.
- Database.
- Virtual machine.
- Application server.
- Domain Controller atau layanan identity.
- Backup repository.
- CCTV atau VMS workloads.
Apakah semua bisnis wajib memiliki server on-premise?
- Tidak. Pilihan infrastruktur harus mempertimbangkan workload dan kebutuhan bisnis.
- Cloud atau SaaS dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan tertentu.
- Server on-premise atau hybrid dapat lebih sesuai untuk workload tertentu, kebutuhan kontrol, atau integrasi khusus.
Apa yang harus dianalisis sebelum membeli server?
- Jumlah user dan aplikasi.
- Kapasitas dan pertumbuhan data.
- Kebutuhan availability.
- Backup dan recovery.
- Keamanan serta compliance bila relevan.
- Budget dan kebutuhan ekspansi.
Server on-premise, virtualisasi, atau cloud?
Tidak semua workload harus ditempatkan pada server fisik tradisional. Perusahaan dapat memilih server bare metal, virtualisasi, HCI, atau cloud sesuai kebutuhan aplikasi, latency, compliance, kapasitas, dan model biaya. Untuk workload yang stabil dan membutuhkan kontrol lokal, on-premise dapat masuk akal. Untuk workload yang elastis atau ingin mengurangi capital expenditure, cloud dapat menjadi pilihan.
Checklist sizing server
Sebelum membeli server, hitung compute, RAM, storage IOPS, network throughput, growth rate, availability, backup, dan recovery requirement. Pastikan juga tersedia ruang ekspansi serta dukungan lifecycle. Untuk kebutuhan virtualization, perhitungkan jumlah VM, vCPU, memory overcommit yang realistis, dan kapasitas storage bersama. Sizing yang baik mencegah undersizing sekaligus mengurangi pembelian resource yang berlebihan.